Ning ita bersama Santriwati Pondok Pesantren Al Amin Putri
MOJOKERTO, 20 Juli 2026 – Pondok pesantren kini tak lagi sekadar menjadi ruang sunyi tempat melantunkan ayat-ayat suci dan mendalami kitab kuning. Di Kota Mojokerto, sebuah terobosan baru lahir untuk mengubah ribuan santri menjadi garda terdepan dalam menghadapi situasi darurat. Melalui program inovatif bernama Tagana Masuk Pesantren (TAMATREN), Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) resmi melatih ratusan santriwati di Pondok Pesantren Al Amin Putri untuk memiliki insting tajam dalam mitigasi bencana, Senin (20/7). Langkah tak biasa ini menjadi babak baru dalam pembentukan komunitas siaga bencana berbasis religius di wilayah perkotaan.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menegaskan bahwa penyelenggaraan TAMATREN ini bukan sekadar formalitas untuk menggugurkan kewajiban atau melaksanakan amanat regulasi belaka. Lebih dari itu, program ini digulirkan demi membangun fondasi budaya sadar bencana yang kokoh di lingkungan pesantren. Pemerintah daerah berkomitmen membekali para santri dengan pengetahuan mitigasi yang aplikatif dan kesiapsiagaan penuh dalam menghadapi berbagai potensi ancaman yang bisa datang kapan saja tanpa peringatan.
Menurut wali kota yang akrab disapa Ning Ita tersebut, status asal-usul para santri yang mayoritas datang dari luar daerah tidak menjadi sekat pembatas bagi pemerintah untuk memberikan perlindungan. Selama para santri berdomisili dan menuntut ilmu di pondok pesantren yang berada di dalam wilayah hukum Kota Mojokerto, maka keselamatan mereka sepenuhnya menjadi tanggung jawab moril dan konstitusional pemerintah kota. Edukasi kebencanaan ini dinilai sangat vital agar mereka tidak gagap saat situasi genting melanda.
Secara geografis, Kota Mojokerto memang bukan termasuk daerah dengan kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir besar atau tanah longsor. Meski demikian, pemerintah kota enggan bersikap lalai dan jemawa. Sebagai bentuk keseriusan dan langkah taktis perundang-undangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) resmi dibentuk pada tahun 2025 lalu untuk memperkuat rantai koordinasi. Kini, seluruh kelurahan di kota ini sedang bertransformasi menjadi Kampung Tangguh Bencana. Sinergi kuat pun dibangun antara BPBD dan Dinas Sosial melalui peran aktif Taruna Siaga Bencana (Tagana).
Ning Ita membeberkan bahwa ancaman paling nyata dan mengerikan di wilayah padat perkotaan seperti Kota Mojokerto bukanlah bencana alam murni, melainkan musibah kebakaran. Data mencatat, sepanjang enam bulan pertama di tahun 2026 saja, sudah terjadi sedikitnya tujuh peristiwa kebakaran hebat di Kota Mojokerto, bahkan salah satunya memicu kerugian materiil hingga ratusan juta rupiah. Oleh karena itu, santri putri wajib memiliki pengetahuan memadai untuk mencegah kebakaran, memahami cara menyelamatkan diri dengan tenang, dan tidak terjebak dalam kepanikan yang fatal.
Selain simulasi penjinakan api, Ning Ita juga mengenalkan keberadaan layanan Call Center 112 yang beroperasi penuh selama 24 jam secara gratis. Layanan darurat ini dapat diakses cepat oleh masyarakat saat melihat indikasi kebakaran maupun kondisi kegawatdaruratan lainnya di lingkungan sekitar.
Kepala Pondok Pesantren Al Amin Putri, Muhammad Ali Fahrudin, menyambut sangat baik program ini dengan antusiasme tinggi. Dirinya menilai keterampilan praktis ini akan membuat santriwati jauh lebih mandiri dan tangguh. Harapannya, para santri putri tidak hanya fokus pada tafaqquh fiddin atau belajar ilmu agama saja, melainkan juga menguasai keahlian sosial yang nyata dan bermanfaat luas ketika nanti terjun kembali di tengah masyarakat. Melalui TAMATREN, santriwati dibekali manajemen kebencanaan, mitigasi lingkungan pesantren, hingga pengenalan tugas pokok relawan Tagana. Pemerintah berharap investasi ilmu keselamatan ini melahirkan generasi muda islami yang tangguh, peka, dan siap siaga menghadapi segala marabahaya.
Pewarta: Harjo
